Kapsul Minyak dan Garam Beryodium

Kapsul Minyak dan Garam Beryodium

Kapsul Minyak dan Garam Beryodium – Artikel kali masih melanjutkan uraian kita tentang Yodium (Iodine). Tentang apa dan bagaimana Yodium, sahabat Info Kesehatan tentu telah menyimaknya pada artikel-artikel sebelumnya. Mudah-mudahan Informasi Kesehatan kali ini, yang masih berkutat pada masalah Yodium, dapat semakin menambah khasanah wawasan kita terhadap zat ini.

Kapsul Minyak Beryodium

Kapsul ini merupakan larutan yang mengandung 200 mg yodium dalam bentuk minyak yang dikemas berbentuk kapsul. Manfaat dari Kapsul Minyak Beryodium adalah untuk mencegah lahirnya bayi kretin, dan diberikan kepada seluruh wanita usia subur, ibu hamil dan ibu nifas.

Kapsul Minyak dan Garam Beryodium
Kapsul Minyak dan Garam Beryodium

Kapsul ini dapat diperoleh Puskesmas, Puskesmas Pembantu ataupun Posyandu. Bisa juga diperoleh dari para petugas kesehatan pada saat melakukan kunjungan ke rumah warga (sweeping). Cara mengkonsumsi kapsul sama dengan minum obat lainnya dengan ditelan. Adapun dosis yang diberikan adalah sebagai berikut :

– Anak sekolah dasar : 1 kapsul/tahun

– Ibu nifas : 1 kapsul/tahun

– Ibu hamil : 1 kapsul/tahun

– Wanita usia subur : 2 kapsul/tahun

Pada daerah endemik Ganggguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) yang berkategori sedang, Kapsul Minyak Beryodium ini diberikan kepada wanita usia subur, ibu hamil dan ibu nifas. Sedangkan  Pada daerah endemik GAKY yang berkategori berat, kapsul ini diberikan kepada wanita usia subur usia 15-49 tahun, ibu hamil dan ibu nifas serta anak sekolah dasar pada usia 1-6 tahun.

Garam Beryodium

Garam ini merupakan garam yang telah diperkaya dengan yodium (iodine) yang dibutuhkan tubuh sehat untuk pertumbuhan dan kecerdasan. Garam Beryodium digunakan sebagai garam konsumsi yang harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang antara lain dipersyaratkan kandungan yodiumnya sebesar 30-80 ppm.

Manfaat dari peluncuran garam beryodium ini adalah mencegah Ganggguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) yang terbagi menjadi 3 tingkatan, yaitu tingkat ringan berupa pembesaran kelenjar gondok sehingga mengurangi keindahan dan kecantikan. Pada tingkat sedang, yaitu terganggunya kesehatan karena terjadi pembesaran kelenjar gondok, cepat lelat dan tidak tahan bekerja, datang bulan tidak teratur dan keguguran pada ibu hamil. Sedangkan pada tingkat berat mengakibatkan bayi lahir mati dan bayi lahir kretin, yakni bayi yang kelahirannya terdapat dua atau lebih kelainan, seperti pembesaran kelenjar gondok, gangguan perkembangan mental dan gangguan pendengaran, bahkan sampai tuli.

Jumlah yang dianjur untuk mengkonsumsi Garam Beryodium adalah 6 gram atau 1 sendok teh per hari. Dalam kondisi tertentu, diimana keringat keluar berlebihan maka dianjurkan untuk mengkonsumsi sebesar 2 sendok teh per hari. Khusus untuk penderita Tekanan Darah Tinggi (Hypertensi) atau yang harus mengurangi konsumsi garam, dianjurkan tetap mengkonsumsi garam ini, namun jumlahnya sedikit saja. Penderita ini juga dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dari laut yang kaya akan yodium seperti ikan, udang, ganggang laut.

Garam beryodium dapat diperoleh di toko-toko, warung ataupun pasar. Telitilah pada saat membeli dengan mencheck kondisi kemasan plastik yang harus baik, tertutup rapat dan tidak bocor; serta tertera garam beryodium dalam kemasannya.

Garam ini harus disimpan di tempat yang sejuk, jauhkan dari panas api dan kontak sinar matahari langsung. Letakkan dalam wadah yang kering dan tertutup rapat, serta tutup kembali dengan rapat jika telah digunakan.  Untuk pengambilan dari wadah, gunakanlah sendok kering untuk mengambil garam ini.

Demikian uraian artikel Kapsul Minyak dan Garam Beryodium, semoga menambah wawasan informasi kesehatan kita demi tercapainya tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat.

Tips Menguji Mutu dan Kandungan Yodium pada Garam Beryodium

Tips Menguji Mutu dan Kandungan Yodium pada Garam Beryodium

Tips Menguji Mutu dan Kandungan Yodium pada Garam Beryodium – Dalam dunia persaingan dan pasar yang begitu bebas saat ini, dimana orang berlomba-lomba mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam berdagang meski dengan cara-cara yang merugikan. Sahabat Informasi Kesehatan tentu pernah menyaksikan tayangan di televisi tentang bagaimana kecurangan para pedagang dengan mencampurkan bahan terlarang untuk dikonsumsi, agar dagangan mereka menarik minat pembeli dan cepat laku di pasaran.

Tips Menguji Mutu dan Kandungan Yodium pada Garam Beryodium
Tips Menguji Mutu dan Kandungan Yodium pada Garam Beryodium

Nah kali ini kita akan membagi Tips Menguji Mutu dan Kandungan Yodium pada Garam Beryodium, agar garam yang kita beli tetap sehat untuk tubuh kita dan tidak berdampak buruk pada kesehatan kita di masa-masa mendatang.

Menguji Kandungan Yodium (Iodine) secara Tradisional

– Kupas dan parut singkong yang masih segar.

– Tuangkan 1 sendok perasan singkong parut tersebut, tanpa dicampur air, ke dalam tempat yang kering dan bersih.

– Kemudian tambahkan 4-6 sendok teh penuh (menggunung) garam yang hendak kita uji.

– Lalu tambahkan 2 sendok teh cuka biang, aduk sampai rata, kemudian biarkan selama beberapa menit. Bila timbul warna biru keunguan, berarti garam tersebut mengandung yodium.

Menguji Yodium (Iodine) dengan Iodina Test

– Siapkan garam yang bertuliskan Garam Beryodium.

– Siapkan cairan uji Iodina.

– Ambil 0,5 sendok teh garam yang akan diuji tersebut dan letakkan di piring kering dan bersih.

– Teteskan cairan uji Iodina sebanyak 2-3 tetes pada garam tersebut.

– Tunggu dan perhatikan apakah garamnya berubah warna. Kalau garam tetap berwarna putih, maka berarti garam tersebut tidak mengandung yodium (0 ppm).

– Namun apabila berubah menjadi ungu, maka berarti garam itu mengandung yodium sesuai persyaratan (30 ppm).

Demikian Tips Menguji Mutu dan Kandungan Yodium pada Garam Beryodium, semoga bermanfaat dan selamat mencoba. Pastikanlah selalu mengkonsumsi garam beryodium demi kesehatan kita dan kesehatan generasi mendatang agar tetap menjadi kuat, cerdas dan sehat.

Waspadai Penggunaan Rodamin B dan Methanil Yellow

Waspadai Penggunaan Rodamin B dan Methanil Yellow

Waspadai Penggunaan Rodamin B dan Methanil Yellow – Tentu telah disadari oleh Sahabat Informasi Kesehatan bahwa begitu banyak makanan yang beredar di sekitar yang nilai hygienietasnya diragukan. Dan parahnya lagi produk makanan tersebut banyak dijual di sekitar lingkungan sekolah anak-anak kita. Banyak produk makanan yang beredar tersebut mengandung dan menggunakan bahan berbahaya. Diantara bahan berbahaya yang lazim ditemui dan digunakan dalam makanan yang dijual adalah Rhodamin B dan Methanil Yellow.

Waspadai Penggunaan Rodamin B dan Methanil Yellow
Waspadai Penggunaan Rodamin B dan Methanil Yellow

Agar kita mengetahui seberapa berbahayanya bahan-bahan tersebut, maka kita harus mengenal lebih dulu, bahan-bahan apakah itu. Hal ini perlu kita lakukan agar kita lebih Waspadai Penggunaan Rodamin B dan Methanil Yellow serta bahaya-bahaya yang dapat timbul karenanya.

– Rhodamin B

Apakah itu? Rhodamin B adalah pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal merah keunguan dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar. Rhodamin B ini biasa digunakan untuk industri tekstil dan kertas serta dilarang keras untuk digunakan sebagai pewarna makanan. Namun masih banyak dijumpai makanan-makanan yang mengandung zat ini. Para pembuat makanan secara sembunyi-sembunyi memasukkan zat berbahaya ini dengan harapan makanan yang dibuatnya memiliki warna cerah dan menarik perhatian pembelinya sehingga bisa laku keras tanpa memperhatikan efek berbahaya bagi pembelinya yang timbul di belakang hari.

– Methanil Yellow

Kuning metanil atau methanil yellow adalah zat warna sintetis berwarna kuning kecoklatan dan berbentuk paddat atau serbuk yang digunakan untuk pewarna tekstil (kain) dan cat. Methanil yellow juga dilarang keras digunakan untuk pangan. Namun pada kenyataannya masih juga dijumpai makanan-makanan yang mengandung zat ini karena ulah pembuat makanan yang nakal.

– Kenali Ciri-ciri Pangan Mengandung Rhodamin B dan Methanil Yellow

– Bahaya Rhodamin B dan Methanil Yellow

1. Pada Rhodamin B tampak warna merah yang mencolok, sedangkan pada Methanil Yellow akan tampak warna kuning yang mencolok dan kecenderungan warnanya berpendar.

2. Banyak memberikan titik-titik warna yang tidak merata.

Bahaya akut Rhodamin B dan Methanil Yellow bila tertelan dapat menyebabkan gangguan kesehatan berupa iritasi pada saluran pencernaan, apabila terpapar pada bibir dapat menyebabkan bibir pecah-pecah, kering, gatal bahkan dapat mengakibatkan kulit bibir terkelupas. Bahaya kronis akiibat mengkonsumsi dalam jangka panjang menyebabkan gangguan kesehatan pada fungsi hati, gangguan kandung kemih, bahkan kanker. Beberapa penyalahgunaan Rhodamin B dan Methanil Yellow pada pangan, antara lain pada kerupuk, terasi, gulali serta sirup berwarna merah.

Demikian Informasi Kesehatan tentang Rhodamin B dan Methanil Yellow serta bahayanya yang disadur dari leaflet Badan POM Republik Indonesia, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat serta tambahan wawasan dan manfaat pengetahuan untuk kita semua.

Tips Posisi Menyusui yang Benar

Tips Posisi Menyusui yang Benar

Tips Posisi Menyusui yang Benar –Dalam beberapa artikel kita terdahulu, pada blog tersayang Informasi Kesehatan ini, telah kita uraikan tentang ASI, Komposisi ASI, ASI Eksklusif serta Inisiasi Menyusu Dini. Saat ini kita akan menguraiakan beberapa posisi yang benar dalam menyusui bayi kita. Mengapa perlu kita uraiakan tentang ini? Karena keberhasilan ibu saat menyusui bayinya dipengaruhi juga oleh faktor posisi saat menyusui (breastfeeding). Kesalahan terjadi saat menyusui akan mengakibatkan lecet pada puting ibu. Akibat lain yang bisa terjadi adalah Air Susu Ibu (ASI) yang disedot oleh bayi tentunya akan sedikit pula.

Posisi Menyusui yang Benar adalah dengan memastikan seluruh bagian puting dan areola (bagian hitam di sekitar puting) masuk ke mulut bayi. Pada saat menyusui pastikan seluruh tubuh bayi menghadap kepada ke ibu. Serta pastikan pula bahwa posisi hidung dan dagu bayi menghadap ke payudara dan lubang hidung bayi tidak tertutup oleh payudara. Sebab apabila hal ini terjadi karena tidak disadari oleh sang ibu, akibat ketiduran saat menyusui misalnya, maka akan dapat berakibat fatal, sang bayi bisa kekurangan oksigen karena tidak dapat bernapas, bahkan bisa meninggal karena lemas tidak bisa bernapas. Ketika posisi tubuh bayi sudah menghadap ke ibu untuk menyusu maka tahan kepala, leher dan punggung bayi dengan tangan ibu.

Tips Posisi Menyusui yang Benar
Tips Posisi Menyusui yang Benar Gambar dari slideshare.net

Berikut ini beberapa Posisi Menyusui yang Benar, baik dan bisa dipraktekkan agar kesehatan ibu bisa tetap trerjaga dan sang bayi bisa tetap sehat, yaitu :

1. Posisi Menggendong (Cradle)

Caranya adalah :

– Posisi bayi dipeluk dan kepalanya diletakkan pada lekuk siku tangan sang ibu.

– Jika bayi disusui pada payudara kanan, maka letakkan kepalanya pada lekuk siku tangan kanan dan bokongnya pada telapak tangan kanan dari sang ibu, demikian juga sebaliknya.

– Arahkan badan sampai kuping sang bayi satu garis lurus dengan tangan bayi yang ada diatas.

– Posisi bayi berbaring menyamping dengan muka, perut dan lutut menempel pada dada dan perut ibu.

– Tangan bayi yang berada di bawah tubuhnya biarkan merangkul badan ibu untuk membantu mulut bayi mencapai payudara.

– Posisi ibu pada saat menyusui ini adalah duduk atau berdiri.

2. Posisi Menggendong Silang (CrossCradle)

– Posisi kepala bayi disangga oleh telapak tangan sang ibu.

– Jika bayi disusui pada payudara kanan, maka gunakan tangan kiri untuk memegangnya, demikian juga sebaliknya.

– Peluk bayi sehingga kepala, dada dan perutnya mengahadap ibu.

– Arahkan mulutnya ke puting payudara ibu dengan ibu jari dan tangan ibu di belakang kepala dan di bawah telinganya.

– Posisi ibu pada saat menyusui ini adalah duduk. Posisi ini cocok pula untuk bayi yang kesulitan menempelkan mulutnya ke puting susu karena puting dan payudara ibu besar, sementara mulut sang bayi kecil.

3. Posisi Menyangga Kepala (Football Hold)

– Posisi kepala bayi disangga oleh telapak tangan sang ibu, dan tubuh bayi ‘diselipkan’ di bawah tangan sang ibu.

– Jika bayi disusui pada payudara kanan, pegang bayi dengan tangan kanan, demikian juga sebaliknya.

– Posisi ini cocok untuk ibu-ibu yang melakukan persalinan dengan operasi caesar agar bayi tidak berbaring diatas perut ibu yang baru saja menjalani proses operasi.

– Posisi ibu pada saat menyusui ini adalah duduk.

4. Posisi Tidur Bersisian (Lying Down)

– Posisikan kepala dan tubuh bayi menghadap ke sang ibu serta arahkan dan bantu mulut sang bayi untuk menempel ke puting payudara.

– Apabila perlu bisa diletakkan bantal kecil atau lipatan selimut di bawah kepala sang bayi agar ia tidak perlu menegangkan leher untuk mencapai puting sang ibu.

– Posisi ibu pada saat menyusui ini adalah berbaring di tempat tidur, dengan meletakkan beberapa bantal di bawah kepala, bahu dan lutut agar punggung dan panggul tetap pada posisi lurus. Posisi ini cocok untuk ibu yang dalam proses penyembuhan setelah operasi caesar ataupun setelah persalinan yang sulit.

– Posisi ini membuat ibu relaks karena tidak perlu membungkukkan badannya ke arah sang bayi. Namun yang perlu diwaspadai adalah agar sang ibu tidak sampai terlena dan ketiduran, sehingga dikhawatirkan tidak dapat mengontrol posisi bayi dan hidung bayi bisa saja tersumbat oleh payudara, tentu saja dapat berakibat fatal.

Mengenal dan Mewaspadai Penggunaan Formalin dan Boraks

Mengenal dan Mewaspadai Penggunaan Formalin dan Boraks

Mengenal dan Mewaspadai Penggunaan Formalin dan Boraks – Setelah kita membahas tentang zat pewarna yang berbahaya bagi kesehatan, kini kita akan membahas tentang bahaya penggunaan bahan penggunaan bahan pengawet bagi makanan kita.

Mungkin beberapa dari Sahabat Informasi Kesehatan telah mengenal bahan pengawet berbahaya yang banyak disalahgunakan menjadi bahan pengawet makanan. Yup, betul, itu adalah formalin dan boraks. Untuk itu uraian berikut akan menjelaskan tentang Mengenal dan Mewaspadai Penggunaan Formalin dan Boraks.

– Formalin

Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Formalin biasanya digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis dan disinfektan untuk peralatan rumah sakit serta untuk pengawet mayat. Formalin dilarang digunakan untuk pengawet pangan.

Mengenal dan Mewaspadai Penggunaan Formalin dan Boraks
Mengenal dan Mewaspadai Penggunaan Formalin dan Boraks

Formalin sangat berbahaya apbila terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Jika terhirup dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan. Jika kena kulit dapat menyebabkan luka baker, reaksi alergi. Jika tertelan akan menyebabkan rasa terbakar pada mulut, tenggorokan dan perut, sakit menelan, mual dan muntah, sakit kepala, kejang hingga koma. Dapat pula merusak hati, jantung, otak, ginjal, syaraf. Konsumsi dalam jangka panjang akan menyebabkan kanker. Apabila tertelan formalin sebanyak 30 ml (3 sendok makan) akan menyebabkan kematian. Beberapa penyalahgunaan formalin pada pangan diantaranya mie basah, tahu, ikan segar dan ikan kering.

– Ciri-ciri mie basah berformalin :

Tidak lengket, lebih mengkilap, baunya menyengat khas formalin, bertahan lebih dari 1 hari dalam suhu kamar/ruang.

– Ciri-ciri tahu berformalin :

Tidak lengket, lebih mengkilap, baunya menyengat khas formalin, bertahan lebih dari 1 hari dalam suhu kamar/ruang.

– Ciri-ciri ikan asin, ikan segar dan daging segar berformalin :

Tidak dihinggapi lalat dan baunya menyengat khas formalin

– Boraks

Boraks adalah senyawa berbentuk kristal putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium tetrabonat (Na2B4071OH20). Apbila larut dalam air akan menjadi hidroksida dan asam borat (H3BO3). Salah satu turunan boraks yang sering disalahgunakan untuk pangan adalah bleng. Boraks atau asam boraks biasanya digunakan untuk bahan pembuat detergen, mengurangi kesadahan air dan antiseptic boraks. Dilarang keras digunakan untuk pangan.

Boraks sangat berbahaya apabila terhirup, mengenai kulit, mata dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit dan mata, mual, sakit kepala, nyeri hebat pada perut bagian atas. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan ginjal, kegagalan sistim sirkulasi akut, bahkan kematian. Konsumsi boraks 5-10 gram oleh anak-anak dapat menyebabkan shock dan kematian. Beberapa penyalahgunaan boraks dalam pangan antara lain bakso, silok, lontong dan kerupuk gendar.

– Ciri-ciri mie basah, bakso, lontong, cilok dan otak-otak mengandung boraks :

Tekstur sangat kenyal, tidak lengket dan tidak mudah putus.

– Ciri-ciri kerupuk rambak dari tepung gendar mengandung boraks :

Tekstur sangat renyah namun terasa getir.

Demikian informasi kesehatan tentang Penggunaan Formalin dan Boraks serta bahayanya yang disadur dari leaflet Badan POM Republik Indonesia, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat serta tambahan wawasan dan manfaat pengetahuan untuk kita semua.